Bisa Membedakan Keinginan dan Kebutuhan “Bukan Semua yang Kita Mau, Itu Kita Butuh”
www.solusisdmgroup.com – Hehe lagi-lagi diawali dengan “Kita jujur aja ya…”. Sekarang tuh batas antara butuh dan pengen makin blur. Laper dikit buka ojol. Capek dikit self-reward. Lagi sedih? Check out. Rasanya kayak semuanya “perlu”, padahal… nggak juga.
Ada satu temen—sebut aja E. Gaji belum naik, tapi gaya hidup udah naik duluan. Alasannya selalu masuk akal: “Ini kan buat kerja”, “Ini biar waras”, “Sekali-sekali nggak apa-apa.”
Masalahnya, “sekali-sekali” kejadian tiap minggu.
E nggak ngerasa salah. Karena di sekelilingnya juga gitu. Timeline isinya orang healing, jajan, upgrade hidup. Kalau nggak ikut, rasanya kayak ketinggalan.
Sampai suatu hari, E sadar satu hal: tiap gajian selalu habis, tapi hidup nggak pernah berasa aman.
Di sisi lain ada F. Hidupnya nggak jauh beda. Sama-sama kerja, sama-sama capek. Tapi F punya kebiasaan kecil: tiap mau beli sesuatu, dia nanya ke diri sendiri—“Gue butuh atau gue pengen?”
Kalau butuh, gas. Kalau pengen, dia kasih jeda. Kadang batal, kadang jadi. Tapi setidaknya sadar.
Perbedaannya kelihatan pas ada hal mendadak. E panik. F nggak santai, tapi siap.
Cerita ini bukan soal pelit atau nggak menikmati hidup. Nikmatin hidup itu perlu. Tapi kalau semua keinginan kita anggap kebutuhan, yang capek bukan dompet doang—mental juga.
Karena realitanya, kebutuhan itu bikin kita bertahan. Keinginan itu bikin hidup seru. Tapi dua-duanya harus tahu tempat.
Dan di kondisi sekarang, yang bikin tenang bukan seberapa sering kita checkout, tapi seberapa siap kita kalau hidup tiba-tiba berubah.
Kesimpulan:
“Boleh pengen banyak hal. Tapi jangan sampai lupa: yang paling kita butuhin itu rasa aman.”
Mau tahu tips mengelola gaji yang baik? Yuk ikutin webinar Cerdas Finansial Untuk Karyawan di Era Digital
